Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Mei 2012

agama dan perubahan sosial


Agama dan Perubahan Sosial
Oleh. Mr. Dani-ASSET BOY

Salah satu pemegang peran dari perubahan sosial adalah pemuda yang menjadi simbol penggerak perubahan dengan segala potensi yang dimiliki serta dengan semangatnya yang membara. Pemuda menjadi bagian terpenting dalam tatanan masyarakat, menjadi motor penggerak dalam melakukan perubahan social. Kehidupan bumi ini membutuhkan lebih dari kehadiran- kehadiran dari para penghuninya. Yaitu membutuhkan semangat, optimisme, dan kekuatan sebagaimana yang dimiliki oleh para pemuda. Karena ditengah kehidupan saat ini, realitas social telah berada pada titik yang membahayakan, penuh jebakan, dan selalu menipu dengan berbagai tampilannya yang popular, romantic, menghipnotis.

Problem terbesar saat ini adalah adanya westoknisasi melalui budaya, pendidikan, teknologi, perkembangan industry dan eastoknisasi sendiri sehingga perilaku kehidupan masyarakat Indonesia tidak lagi berada pada kondisi budaya dan kepribadiannya sebagai bangsa Indonesia. Munculnya budaya yang menggrogoti nilai-nilai kemanusiaan di Indonesia seperti, free sex, pornografi, pergaulan bebas, korupsi telah meracuni kehidupan bangsa Indonesia yang beradab dan luhur. Kondisi Ini berdampak besar pada kehidupan beragama, dimana agama tidak lagi dijadikan sebagai pijakan moral dalam bertindak. Agama hanya menjadi sarana pelarian atas kekecewaan manusia dalam menjalani hidupnya. Kehidupan social yang tidak stabil itu, tidak hanay memunculkan kelompok-kelompok agama yang eksklusi tapi juga fanatic dan ekstrim, yang tidak perduli pada orang lain kecuali keselamatan kelompoknya. Realitas social hari ini telah menggambarkan kepada kita akan kehidupan beragama yang semakin jauh dari moralitas keberagamaan itu sendiri. Agama hanya dipahami sebagai ritualisasi, simbolisasi, eforia yang kehilangan makna dan tanpa esensi. Ini dapat dilihat dari pengindentikan antara agama dengan terorisme, perusakan, dan kekerasan. Agama kemudian disimpulkan menjadi symbol perusak tatanan social. Dalam artian agama menjadi dalil bagi pembenaran atas segala tindakan yang tak manusiawi.

Disisi lainnya, hal yang paling bermasalah dalam kehidupan beragama adalah perubahan paradigm (main set) yang menempatkan relasi manusia pada posisi subyek-obyek, dimana yang salah satu lebih unggul dari lainnya. Manusia memandang orang lain sebagai lawan, obyek yang harus ditindaki dan di eksploitasi. Kondisi ini diakibatkan oleh pengeringan dimensi etis dari agama itu sendiri karena keterputusan dalam menghubungakan dimensi nilai dan praktiknya sehingga mengarahkan manusia pada kehidupan yang serba kacau, kondisi hyperreligiousity dan anarkisme.

Dalam ajaran agama khususnya Islam, Tuhan telah menciptakan segala sesuatunya dengan baik dan sempurna termasuk didalamnya adalah bagaimana menata masyarakat untuk membangun kebaikan bersama (kesejahteraan). Dalam pemikiran yang rasional, agama menjadi dasar, pedoman, rujukan dan referensi, dalil atas tindakan manusia meliputi semua aktivitas yang dilakukannya.  Agama memegang posisi inti, menjadi dasar yang esensial dari semua dimensi kehidupan. Sehingga Agama harusnya menjadi rujukan atas semua dalil, doktrin, dan segala tindakan manusia. Untuk itu, manusia membutuhkan pemahaman yang baik tentang agama yang dianutnya. Pemahaman yang baik atas agama, akan mengarah pada tindakan yang baik pula dalam pengaturan kehidupan manusia.

“Meskipun iman anda tidak sama dengan saya, tapi saya menerima anda apa adanya” (franz Magnis Suseno).

Dalam beberapa ajaran agama tentang kehidupan yang bisa menjadi inspirasi bagi hidup, khusus agama Nasrani, selalu mengajarkan konsep “kasih”. Kasih adalah Tuhan, sehingga setiap pengikut agama harus saling mengasihi satu sama lainnya. Agama harus menjadi kerinduan bagi seluruh manusia. Yaitu memperlakukan orang lain sebagai bagian dari diri kita, membangun keperdulian yang tinggi terhadap orang lain. Kita harus mencintai manusia lainnya kerena kecintaan kita kepada Sang Maha Pemberi Cinta. Dalam artian kecintaan yang dimiliki oleh manusia adalah manifestasi dari kecintaan kita kepada Tuhan dengan segala kebesarannya. Kecintaan dan kasih kepada orang lain adalah kasih pada sesuatu yang kongrit dan pada dasarnya manusia mengawali kecintaannya pada sesuatu yang kongkrit untuk bisa mencintai Tuhan yang sangat abstrak. Dalam artian ini, manusia harus banyak-banyak mengasih sesamanya.

Beberapa pendapat para pemikir tentang hubungan yang diistilahkan dengan Religiousitas teologis dan religiousitas humanity, berpendapat bahwa dalam dunia kontemporer ini dengan berbagai doktrin yang di bawahnya telah memisahkan, mengaburkan garis antara Religiousitas teologis dan religiousitas humanity. Ada keterputusan antara nilai keagamaan yang dipahami dan bagaimana manusia harus berperilaku dalam kehidupan. Kerenggangan antara kedua hubungan ini berakibat pada realitas kehidupan manusia yang menggalau dan penuh jebakan. Pada akhirnya, agama menjadi bagian pelengkap yang sesekali ditilik dan dipegang, agama adalah bentuk pelarian, dan pada titik tertentu agama di jadikan sebagai komoditi atas pencarian keuntungan para kapitalis.

Pada ranah problem social lainnya, ada pertentangan antara kelompok umat beragama yang seiman maupun tak seimana yang tak pernah terdamaikan oleh kesepakatan dan dialog. Ini terjadi karena adanya penafian suatu kelompok atas kelompok lainnya. Sehingga kehidupan beragama dipenuhi dengan kecurigaan, pesimis, intoleransi karena alasan perbedaan pemahaman, atribut, dan metodologi perjuangan. Apatalagi dengan kondisi ini Indonesia yang Plural dengan berbagai mazhab berpikir, agama dan kepercayaan lainnya. Sehingga model keberagamaan yang ekslusif menjadi trend di tengah kondisi social yang tidak stabil.

Berbagai  perdebatan, kecuriagaan, dan pertentangan antara muslim, non muslim dan seiman sebenarnya dikarenakan adanya konstruksi social atas paradigm yang mendominasi kehidupan manusia. Paradigma yang menggiring manusia untuk keluar dari dirinya. Mengajak manusia untuk melupakan yang esensial dan lebih menyibukan diri dengan realitas yang terbaru dan popular. Sehingga manusia lupa melakukan penilaian atas dirinya (autokritik) untuk menemukan kondisi sadar atas dirinya sendiri. Manusia terlalu sibuk dengan kehidupan social yang terkonstruk oleh media dan terjebak dalam dunia yang penuh dengan symbol beserta variasinya. Oleh karena itu, sebenarnya agama menjadi penting ditengah kondisi social yang mengila dan menyesatkan. Pentingnya agama harus terbangun dari kesadaran yang utuh dengan kemampuan membaca realitas social yang terjadi dan mengerakkan manusia untuk mencapai titik kualitas kemanusiaannya. Metode kontemplasi merupakan salah satu metode untuk mendekonstruksi diri, bisa mengenal diri, sehingga memiliki pemahaman yang jelas akan arah dan bagaimana membangun kehidupan beragama dan bersosial.

Agama harus dipahami dengan baik, Agama harus dibangun dari kesadaran. Agama hanya bisa menjadi perubah social ketika mampu membaca konteks social yang terjadi, sehingga agama akan memberikan solusi atas permasalahan social yang terjadi. Manusia harus membangun kesadarannya secara utuh dengan agama sebagai rujukan, karena perubahan social butuh agent, pelaku, actor penggerak perubahan. Dengan agama yang telah mengajarkan kasih dan kedamaian pada setiap manusia serta kasih dan kedamaian akan melahirkan kepedulian dan ketulusan dalam berbagi antara sesala dan membangun tolerasi antar semama. Agama kemudian menjadi hal penting untuk dijadikan landasan dan pedoman hidup atas pencarian diri dan perubahan social yang lebih baik.


Sabtu, 04 Juni 2011

Avatar Indonesia

Dalam beberapa bulan belakangan ini masayarakat indonesia dihadapkan dengan beberapa masalah kasus hukum yang sampai pada hari ini tidak tuntas. Masalah yang paling heboh adalah kasus korupsi yang dilakukan oleh seorang pegawai kantor pajak Gayus tambunan yang memiliki pangkat IIIA. Masyarakat dikejutkan dengan penemuan sejumlah uang dalam jumlah yang besar di rekening gayus yang notabanenya adalah pegawai dengan pangkat rendah. Yang menjadi unik dari kasus ini adalah terbongkarnya gembok-gembok raksasa dan munculnya nama-nama tokoh besar yang cukup dikenal oleh kalangan masyarakat indonesa bahkan orang nomor satu indonesai pun sempat disebut-sebut terlibat didalammya.

Kasus ini pun kemudian menjadi bola (angin) liar yang siap ditendang dan diarahkan kemana saja. Dan yang paling menakutkan adalah bola angin tersebut akan mengenai siapa saja tanpa harus mengetahui status dan kedudukan dari seseorang. Aparat peneggak hukum sebagai pengendali bola angin tersebut harusnya memeriksa dan memintai keterangan atas tuduhan yang dikenakan kepada pihak-pihak tersebut. Namun dalam beberapa kasus terkadang bola angin tersebut tidak dikendalikan oleh peneggak hukum tapi dikendalaikan oleh orang lain yang memiliki kekuasaan lebih besar sehingga justru penegak hukum itu sendiri yang menjadi bola angin kedua untuk darahkan kesiapa saja, ke instansi tertentu, tokoh-tokoh dan orang-orang tertentu sehingga identitas dari sipengendali bola angin tersebut menjadi kabur. Dengan demikian sipengendali (avatar) tersebut dengan kemampuannya, mampu mengendalikan semua keadaan dan menghindar dari berbagai serangan dan kritikan. Semua elemen; media,institusi (kpk, polri, kontor imigrasi, pajak, perusahaan) mampu dikendalikan.

Dan yang paling menakjubkan dari avatar ini dengan tongkat layangnya (satgas penegak hukum) manjadikan dia bisa bergerak leluasa untuk terbang dan berpindah tempat, sehingga peneggak hukum yang harus menindak perbuatanya yang hina itu semakin tak berdaya, untuk menyentuhnya pun mereka tak mampu. Ini lah avatar Indonesai dengan empat kemampuan elemennya (kuasa presidenx, satgas, CIA, demokrat) ingin membangun rezim cikeas ala suharto demi tetap tegaknya kendali kekuasaan atasnya.

Semua orang tahu dan sudah menjadi rahasia umum bahwa avatar lah yang menjadi pelakunya. Tapi yang manjadi masalah adalah ketika semua pendekar dinegeri ini tak mampu mengalahkanya lantas siapa yang harus mengalahkan avatar Indonesia ini....???

Dan ‘kebenaran’ sekarang adalah apa yang diajarkan oleh para pengkhotbah yang berasal dari mereka pula, orang suci dan pembela orang-orang kecil yang bersaksi tentang dirinya sendiri: ‘akulah kebenaran’.

(W.F Nietszche dalam Thus Spake Zarathustra)

Akrobatik Intelektual

pendidikan adalah media untuk mendapat pengetahuan, lewat pendidkan kita bisa mengenal segala realitas, menyapa dan memperlakukannya sebagaimana mestinya sesuatu itu. pemahaman dan tindak seperti itu tidak lain dari apa yang kita pelajari lewat dunia pendidikan. kualitas pengetahuan akan mendukung gerak itu. karena iitu visi pendidikan harus jelas bagi kebutuhan manusia.



pada dasarnya pengetahuan dapat diperoleh dimana saja. kata orang-orang, semua tempat adalah guru, kita bisa belajar dimanapun dan kapan pun kita mau. hanya saja untuk sampai ilmu itu bisa memahamkan kita atas semua realitas, maka ilmu pun harus terbangun dengan sistematis dalam diri kita. dalam artian harus ada proses dan jenjang yang harus dilewati oleh setiap orang yang menjadi musafir ilmu.



realitas manusia hari, menggambarkan bahwa apa yang mereka pahami dari proses belajar adalah demikian. bahwa banyak orang pintar tapi dangkal dari hal-hal yang sifat prinsipil dalam hidup, banyak orang yang ahli dalam bidang tertentu tapi tidak bisa mempertanggung jawabkan keilmuannya secara kemanusiaan. Nuklir, bom, senjata pemusnah masal, senjata biologis, tank dan teknologi lainya, teori-teori dan konsep yang membangun paradigma menjadikan manusia semakin jauh menempati posisinya sebagai manusia dan pemakmur alam semesta. pengetahuan yang pada asalinya mencerahkan dan menjadi pelita hidup justru membawa kengerian zaman.



banyak para filosof, para doktor dan sarjana yang katanya cerdas di negeri dan sekolahnya justru menjadi monster di tanah bumi manusia. karena kecerdasannya, kekuasaan menjadi tergemgam dan dibawah kendalinya. kendali yang diarahkan untuk mewujudkan keinginan dan kepentingan pribadinya dan kelompoknya. karena kekuasaan itu, para intelektual moderen, menjadi penentu kebenaran, pendakwa atas manusia lain yang seolah mereka ingin mengatakan " aku adalah kebenaran". inilah permainan dan akrobat (akrobatik intelektual) yang ditunjukkan para intelektual moderen

sekarang ini.



Menurut Eric Fromm, para intelektual modern telah terjangkiti oleh sebuah penyakit yang disebut dengan ''misosophy'' kebencian kepada kebajikan. yaitu para filosof yang tidak lahir dari pergulatan realitas secara langsung sebagaimana para filosof masa lalu, sokrates, plato, aristoteles dan filosof masa lalu lainnya. akhirnya ilmu itu sendiri menjadi hijab bagi manusia untuk meraih kebahagiaan.



''ilmu adalah cahaya, cahaya tak bersinar kala mata tak ingin melihat lagi" (dhani)

kebebasan; anarkisme dan bela negara

kebebasan menjadi hal yang sangat penting dalam membangun demokrasi. tapi bukan berarti kebebasan itu adalah segalanya. manusia dalam dunia kehidupannya selalu dihadapkan dengan manusia lainnya yang mempunyai berbagai macam kepentingan. oleh karena itu, ada batasan-batasan yang dibangun atas dasar kolektifitas sebagai asas dan prinsip kebersamaan. sehingga hak-hak politik dan sipil setiap manusia dapat saling menghargai dan menghormati kemanusiaan orang lain. kebebasan yang dibangun adalah kebebasan yang memerdekakan diri dan orang lain. dan ini bisa terjadi kalau konsistensi dan komitmen pada batasan sebagai kesepakatan itu tetap dipegang teguh. jadi kebebasan harus dibatasi atas nama kemanusiaan.



kebebasan berpendapat sebenarnya lebih kepada lahirnya ruang publik yang netral yang disiapkan oleh pemerintah untuk mendialektikakan dan menyuarakan aspirasi bagi setiap orang atas saran, kritikan terhadap seluruh fenomena dan realitas sosial yang ada. Pemerintah selaku pemegang otoritas berkewajiban menyediakan ruang publik yang tidak disabotase oleh pihak tertentu saja tetapi juga untuk kepentingan intelektual, pasar, agama dan lainnya secara netral. akan tetapi realitasnya, ruang publik adalah ruang yang sudah menjadi milik pihak penguasa yang berwajah pengusaha sehingga ada ketidakadilan yang terjadi diruang publik. ketidakadilan inilah yang memicu sikap anarkis setiap orang. dimana tidak ada lagi kepercayaan kepada negara sebagai otoritas yang mengatur masyarakat. dan akhirnya kekerasan massa, pembredelan, tawuran, kriminalisme dan premanisme sampai pada terorisme terjadi dimana-mana. jadi,tindakan anarkis bukan muncul tanpa sebab, tapi memang lingkungan yang memaksa kita untuk berbuat demikian. negara menjadi tidak aman akibat miskinnya ruang publik yang tersedia dan kondisi ini akan mudah dimanfaankan oleh pihak-pihak tertentu. ancaman terhadap disintegritas bangsa samakin tinggi. kondisi seperti ini nantinya akan memaksa pihak pertahanan dan keamanan sebagai institusi yang bertanggung jawab untuk bertindak meningkatkan keamanan.



untuk melakukan itu pihak keamanan akan membutuhkan biaya yang sangat besar, menjaga dan mengamankan negara. sehingga kalau ditilik dengan seksama anarkisme sebenarnya telah menyebabkan terbuangnya biaya yang justru bisa dialokasikan untuk kepentingan yang lain tapi disisi lain penindasan yang dilakukan oleh otoritas yang bernama negara semakin tak terkendali. negara kemudian menjelma menjadi monster buas bagi rakyatnya.



oleh karenanya, konsistensi dan komitmen pada batasan/aturan sebagai kesepakatan kolektif harus ditegakkan tanpa pandang bulu, egaliterialisme yang harus dibangun atas dasar kemanusiaan dan kemaslahatan.dan pada akhrinya kita butuh aparatur negara yang punya visi politik yang jelas terhadap perubahan bangsa yang lebih baik.



" corong demokrasi harus terbuka lebar, tapi kualitas adalah yang utama" (dhani)