Sabtu, 04 Juni 2011
Akrobatik Intelektual
pendidikan adalah media untuk mendapat pengetahuan, lewat pendidkan kita bisa mengenal segala realitas, menyapa dan memperlakukannya sebagaimana mestinya sesuatu itu. pemahaman dan tindak seperti itu tidak lain dari apa yang kita pelajari lewat dunia pendidikan. kualitas pengetahuan akan mendukung gerak itu. karena iitu visi pendidikan harus jelas bagi kebutuhan manusia.
pada dasarnya pengetahuan dapat diperoleh dimana saja. kata orang-orang, semua tempat adalah guru, kita bisa belajar dimanapun dan kapan pun kita mau. hanya saja untuk sampai ilmu itu bisa memahamkan kita atas semua realitas, maka ilmu pun harus terbangun dengan sistematis dalam diri kita. dalam artian harus ada proses dan jenjang yang harus dilewati oleh setiap orang yang menjadi musafir ilmu.
realitas manusia hari, menggambarkan bahwa apa yang mereka pahami dari proses belajar adalah demikian. bahwa banyak orang pintar tapi dangkal dari hal-hal yang sifat prinsipil dalam hidup, banyak orang yang ahli dalam bidang tertentu tapi tidak bisa mempertanggung jawabkan keilmuannya secara kemanusiaan. Nuklir, bom, senjata pemusnah masal, senjata biologis, tank dan teknologi lainya, teori-teori dan konsep yang membangun paradigma menjadikan manusia semakin jauh menempati posisinya sebagai manusia dan pemakmur alam semesta. pengetahuan yang pada asalinya mencerahkan dan menjadi pelita hidup justru membawa kengerian zaman.
banyak para filosof, para doktor dan sarjana yang katanya cerdas di negeri dan sekolahnya justru menjadi monster di tanah bumi manusia. karena kecerdasannya, kekuasaan menjadi tergemgam dan dibawah kendalinya. kendali yang diarahkan untuk mewujudkan keinginan dan kepentingan pribadinya dan kelompoknya. karena kekuasaan itu, para intelektual moderen, menjadi penentu kebenaran, pendakwa atas manusia lain yang seolah mereka ingin mengatakan " aku adalah kebenaran". inilah permainan dan akrobat (akrobatik intelektual) yang ditunjukkan para intelektual moderen
sekarang ini.
Menurut Eric Fromm, para intelektual modern telah terjangkiti oleh sebuah penyakit yang disebut dengan ''misosophy'' kebencian kepada kebajikan. yaitu para filosof yang tidak lahir dari pergulatan realitas secara langsung sebagaimana para filosof masa lalu, sokrates, plato, aristoteles dan filosof masa lalu lainnya. akhirnya ilmu itu sendiri menjadi hijab bagi manusia untuk meraih kebahagiaan.
''ilmu adalah cahaya, cahaya tak bersinar kala mata tak ingin melihat lagi" (dhani)
pada dasarnya pengetahuan dapat diperoleh dimana saja. kata orang-orang, semua tempat adalah guru, kita bisa belajar dimanapun dan kapan pun kita mau. hanya saja untuk sampai ilmu itu bisa memahamkan kita atas semua realitas, maka ilmu pun harus terbangun dengan sistematis dalam diri kita. dalam artian harus ada proses dan jenjang yang harus dilewati oleh setiap orang yang menjadi musafir ilmu.
realitas manusia hari, menggambarkan bahwa apa yang mereka pahami dari proses belajar adalah demikian. bahwa banyak orang pintar tapi dangkal dari hal-hal yang sifat prinsipil dalam hidup, banyak orang yang ahli dalam bidang tertentu tapi tidak bisa mempertanggung jawabkan keilmuannya secara kemanusiaan. Nuklir, bom, senjata pemusnah masal, senjata biologis, tank dan teknologi lainya, teori-teori dan konsep yang membangun paradigma menjadikan manusia semakin jauh menempati posisinya sebagai manusia dan pemakmur alam semesta. pengetahuan yang pada asalinya mencerahkan dan menjadi pelita hidup justru membawa kengerian zaman.
banyak para filosof, para doktor dan sarjana yang katanya cerdas di negeri dan sekolahnya justru menjadi monster di tanah bumi manusia. karena kecerdasannya, kekuasaan menjadi tergemgam dan dibawah kendalinya. kendali yang diarahkan untuk mewujudkan keinginan dan kepentingan pribadinya dan kelompoknya. karena kekuasaan itu, para intelektual moderen, menjadi penentu kebenaran, pendakwa atas manusia lain yang seolah mereka ingin mengatakan " aku adalah kebenaran". inilah permainan dan akrobat (akrobatik intelektual) yang ditunjukkan para intelektual moderen
sekarang ini.
Menurut Eric Fromm, para intelektual modern telah terjangkiti oleh sebuah penyakit yang disebut dengan ''misosophy'' kebencian kepada kebajikan. yaitu para filosof yang tidak lahir dari pergulatan realitas secara langsung sebagaimana para filosof masa lalu, sokrates, plato, aristoteles dan filosof masa lalu lainnya. akhirnya ilmu itu sendiri menjadi hijab bagi manusia untuk meraih kebahagiaan.
''ilmu adalah cahaya, cahaya tak bersinar kala mata tak ingin melihat lagi" (dhani)
Malam
malam ini......
seharusnya aku tak penutup mata dan telinga
karena jeritan tak terdengar
seharusnya aku tak tertidur dan terlelap
karena derita tak lagi terasa
dengarkan...
malam berbisik tentang hari esok
malam bercerita tentang masa lalu
malam mendedangkan lagu atas lelah
sebagai penghidmatan atas manusia
mentari esok adalah lawan para bedebah
karena panji revolusi akan di kibarkan
sebagaimana amanat malam menitipkannya
seharusnya aku tak penutup mata dan telinga
karena jeritan tak terdengar
seharusnya aku tak tertidur dan terlelap
karena derita tak lagi terasa
dengarkan...
malam berbisik tentang hari esok
malam bercerita tentang masa lalu
malam mendedangkan lagu atas lelah
sebagai penghidmatan atas manusia
mentari esok adalah lawan para bedebah
karena panji revolusi akan di kibarkan
sebagaimana amanat malam menitipkannya
kebebasan; anarkisme dan bela negara
kebebasan menjadi hal yang sangat penting dalam membangun demokrasi. tapi bukan berarti kebebasan itu adalah segalanya. manusia dalam dunia kehidupannya selalu dihadapkan dengan manusia lainnya yang mempunyai berbagai macam kepentingan. oleh karena itu, ada batasan-batasan yang dibangun atas dasar kolektifitas sebagai asas dan prinsip kebersamaan. sehingga hak-hak politik dan sipil setiap manusia dapat saling menghargai dan menghormati kemanusiaan orang lain. kebebasan yang dibangun adalah kebebasan yang memerdekakan diri dan orang lain. dan ini bisa terjadi kalau konsistensi dan komitmen pada batasan sebagai kesepakatan itu tetap dipegang teguh. jadi kebebasan harus dibatasi atas nama kemanusiaan.
kebebasan berpendapat sebenarnya lebih kepada lahirnya ruang publik yang netral yang disiapkan oleh pemerintah untuk mendialektikakan dan menyuarakan aspirasi bagi setiap orang atas saran, kritikan terhadap seluruh fenomena dan realitas sosial yang ada. Pemerintah selaku pemegang otoritas berkewajiban menyediakan ruang publik yang tidak disabotase oleh pihak tertentu saja tetapi juga untuk kepentingan intelektual, pasar, agama dan lainnya secara netral. akan tetapi realitasnya, ruang publik adalah ruang yang sudah menjadi milik pihak penguasa yang berwajah pengusaha sehingga ada ketidakadilan yang terjadi diruang publik. ketidakadilan inilah yang memicu sikap anarkis setiap orang. dimana tidak ada lagi kepercayaan kepada negara sebagai otoritas yang mengatur masyarakat. dan akhirnya kekerasan massa, pembredelan, tawuran, kriminalisme dan premanisme sampai pada terorisme terjadi dimana-mana. jadi,tindakan anarkis bukan muncul tanpa sebab, tapi memang lingkungan yang memaksa kita untuk berbuat demikian. negara menjadi tidak aman akibat miskinnya ruang publik yang tersedia dan kondisi ini akan mudah dimanfaankan oleh pihak-pihak tertentu. ancaman terhadap disintegritas bangsa samakin tinggi. kondisi seperti ini nantinya akan memaksa pihak pertahanan dan keamanan sebagai institusi yang bertanggung jawab untuk bertindak meningkatkan keamanan.
untuk melakukan itu pihak keamanan akan membutuhkan biaya yang sangat besar, menjaga dan mengamankan negara. sehingga kalau ditilik dengan seksama anarkisme sebenarnya telah menyebabkan terbuangnya biaya yang justru bisa dialokasikan untuk kepentingan yang lain tapi disisi lain penindasan yang dilakukan oleh otoritas yang bernama negara semakin tak terkendali. negara kemudian menjelma menjadi monster buas bagi rakyatnya.
oleh karenanya, konsistensi dan komitmen pada batasan/aturan sebagai kesepakatan kolektif harus ditegakkan tanpa pandang bulu, egaliterialisme yang harus dibangun atas dasar kemanusiaan dan kemaslahatan.dan pada akhrinya kita butuh aparatur negara yang punya visi politik yang jelas terhadap perubahan bangsa yang lebih baik.
" corong demokrasi harus terbuka lebar, tapi kualitas adalah yang utama" (dhani)
kebebasan berpendapat sebenarnya lebih kepada lahirnya ruang publik yang netral yang disiapkan oleh pemerintah untuk mendialektikakan dan menyuarakan aspirasi bagi setiap orang atas saran, kritikan terhadap seluruh fenomena dan realitas sosial yang ada. Pemerintah selaku pemegang otoritas berkewajiban menyediakan ruang publik yang tidak disabotase oleh pihak tertentu saja tetapi juga untuk kepentingan intelektual, pasar, agama dan lainnya secara netral. akan tetapi realitasnya, ruang publik adalah ruang yang sudah menjadi milik pihak penguasa yang berwajah pengusaha sehingga ada ketidakadilan yang terjadi diruang publik. ketidakadilan inilah yang memicu sikap anarkis setiap orang. dimana tidak ada lagi kepercayaan kepada negara sebagai otoritas yang mengatur masyarakat. dan akhirnya kekerasan massa, pembredelan, tawuran, kriminalisme dan premanisme sampai pada terorisme terjadi dimana-mana. jadi,tindakan anarkis bukan muncul tanpa sebab, tapi memang lingkungan yang memaksa kita untuk berbuat demikian. negara menjadi tidak aman akibat miskinnya ruang publik yang tersedia dan kondisi ini akan mudah dimanfaankan oleh pihak-pihak tertentu. ancaman terhadap disintegritas bangsa samakin tinggi. kondisi seperti ini nantinya akan memaksa pihak pertahanan dan keamanan sebagai institusi yang bertanggung jawab untuk bertindak meningkatkan keamanan.
untuk melakukan itu pihak keamanan akan membutuhkan biaya yang sangat besar, menjaga dan mengamankan negara. sehingga kalau ditilik dengan seksama anarkisme sebenarnya telah menyebabkan terbuangnya biaya yang justru bisa dialokasikan untuk kepentingan yang lain tapi disisi lain penindasan yang dilakukan oleh otoritas yang bernama negara semakin tak terkendali. negara kemudian menjelma menjadi monster buas bagi rakyatnya.
oleh karenanya, konsistensi dan komitmen pada batasan/aturan sebagai kesepakatan kolektif harus ditegakkan tanpa pandang bulu, egaliterialisme yang harus dibangun atas dasar kemanusiaan dan kemaslahatan.dan pada akhrinya kita butuh aparatur negara yang punya visi politik yang jelas terhadap perubahan bangsa yang lebih baik.
" corong demokrasi harus terbuka lebar, tapi kualitas adalah yang utama" (dhani)
Janji Manis
Suara riak tak terdengar
mengema pelan ditelan sunyi
aku bertanya, engkau tertidur
aku berteriak, engkau malah tertawa
wahai pejabat....
rakyat tak butuh janji manismu
kami tak bodoh untuk dibodohi
jika engkau tak sanggup
enyalah kau dari negeri ini
wahai pejabat......
coba dengar apa kata mereka
kata yang tak pernah terdengar olehmu
tatkala engkau mendengarkannya
dunia akan merintih sedih karenamu
encamkan itu...!!!
mengema pelan ditelan sunyi
aku bertanya, engkau tertidur
aku berteriak, engkau malah tertawa
wahai pejabat....
rakyat tak butuh janji manismu
kami tak bodoh untuk dibodohi
jika engkau tak sanggup
enyalah kau dari negeri ini
wahai pejabat......
coba dengar apa kata mereka
kata yang tak pernah terdengar olehmu
tatkala engkau mendengarkannya
dunia akan merintih sedih karenamu
encamkan itu...!!!
Langganan:
Postingan (Atom)

