Selasa, 07 Juni 2011
Saturday of the day at Morning
Kecerahan pagi yang membangunkan aku dari tidurku menjadikan hari ini seakan mengantarkan aku untuk melakukan berbagai aktivitas,,,,,,,,cerah,,,,,,,,,,kelembutan dan belaian angin dengan dingin yang membekas di pipiku mengingatkanku pada kampung halamanku tempat aku di besarkan oleh belaian seorang perempuan yang aku sayangi...semoga Allah swt melindunginya!
Ku awali pagi dengan berusaha melepaskan belenggu dekapan tidurku hingga akhirnya akupun terbangun dari kasur mimpiku, memulai pertanyaan dengan, apa yang akan ku kerja hari ini????
Dari ufuk timur, tabir matahari mulai muncul untuk memberikan kehangatan pada tumbuhan, binatang, dan diriku,,,,semoga kehangatannya sehangat harapanku hari ini,,,,,,,,,amin!!!
Kini kabutpun membubul ke awan melepaskan diri dari jeratan malam yang menidurinya, bagaikan burung yang lepas dari sangakarnya dan dedaunan mulai menari menampakan pesona dan menaburkan semerbak harumnya tuk menghiasi dunia,,,,,indah,,,,,
Tabir sang surya menampakan kegagahanya di hadapan para kalian yang menunggunya, melintasi cakrawala dan masuk ke dalam relung-relung kehidupan menghidupan dari penantian dan mimpi malamnya,,,,,
Dan Kicauan burung ikut meramaikan senandung dengan tepukan gendang ria kehidupan, seolah hidup
adalah milik mereka bersama,,,,,
Kini aku tersipuh malu pada kalian yang mengajarkan aku tentang arti dari sebuah hidup, bagaimana semestinya hidup,,,,,,entalah apakah kalian mengerti dengan kerisauanku tentang hidup,,,,,akupun mulai bertanya untuk belajar dari cara hidup kalian,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Bagaimana kita yang materi menyentuh/merasakan Tuhan yang non materi???
Bahwa di dalam diri manusia terdapat unsur non materi dimana sesuatu itu bernama jiwa dan jiwa ini dimiliki setiap mahkluk hidup. Jiwa manusia adalah fakultas yang menjadikan potensi yang ada dalam diri manusia itu menjadi teraktual misalnya melihat , mendengarkan, merasakan. Semua itu adalah contoh dari aktualitas potensi jiwa.
Kemudian asumsi lainnya bahwa didalam epistemologi, kita mengenal beberapa pembagian ilmu terutama ilmu Hudhuri dan ilmu Hushuli, dimana ilmu hudhuri adalah ilmu antara objek dan subyeknya tidak terpisah dalam artian menyatu antara subyek dan obyeknya sehingga pengetahuan dari sesuatu itu objektif tanpa keraguan sehingga kita tidak perlu lagi menilai tentang benar dan salahnya sesuatu itu karena kita langsung menyaksikannya. Sedangkan ilmu hushuli adalah ilmu dimana antara subyek dan obyeknya itu terpisah dalam artian obyek kajiannya berada di luar subyek sehingga untuk mengetahui kebenaran obyektif dari sesuatu itu di perlukan analisis/usaha dalam pemikiran dalam mengetahuinya sehingga kita bisa menilainya benar atau salah dari sesuatu itu. Sebagai contoh ketika anda menanyakan tentang kota mekkah kepada seseorang yang dari mekkah, maka orang tersebut akan mendiskripsikan/menjelaskan kepada anda tentang mekkah itu bahwa kota mekkah itu seperti ini dan itu, dalam artian anda hanya bisa membayangkan karena kota mekkah itu sendiri berada jauh dari diri anda sebagai subyek. Itulah contoh ilmu hushuli ketika anda mengetahui sesuatu itu melalui perantaraan sehingga kebenarannya pun masih diragukan. Berbeda dengan orang atau kita langsung hadir/datang ke mekkah sehingga kita bisa menyaksikan langsung dan pengetahuan kita tentang mekkah akan lebih obyektif di banding kita tidak datang dan tidak menyaksikannya secara langsung. Ilmu hudhuri bahwa antara kota mekkah sebagai obyek itu tidak terpisah dengan kita sebagai subyek sehingga kita tidak perlu/butuh banyak usaha untuk menilai benar dan salahnya tentang bagaimana kota mekkah tersebut karena kita telah hadir dan menyaksikannya secara langsung.
Olehnya itu, untuk mengetahui sesuatu di luar diri kita, kita membutuhkan analisis pemikiran berdasarkan pengetahuan yang kita miliki sedangkan jika sesuatu itu tidak berada diluar diri kita tapi bahwa sesuatu itu menyatu dengan diri kita maka kita tidak membutuhkan lagi analisis dan pemikiran yang panjang tentang sesuatu itu karena kita langsung mengetahuinya dan menyaksikannya secara langsung. Sekarang bagaimana kita yang materi menyentuh/merasakan Tuhan yang non materi??? Untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu kita mempertanyakan apakah Tuhan itu terbatas? Apakah Tuhan meliputi segala sesuatu ataukah tidak? Apakah Tuhan itu berada di dalam diri kita ataukah berada di luar diri kita? Dan Bagaimana sebenarnya konsep Tuhan itu sendiri hadir dalam diri kita?
Secara rasionalitas pasti kita mengatakan bahwa Tuhan itu meliputi segala sesuatunya, di mana tidak ada satu tempat pun di dunia ini maupun dialam semesta ini yang tidak dilingkupinya. Kalaupun kita menolaknya maka semua landasan berpikir kita menjadi gugur dan itu mustahil terjadi. Oleh karena itu, Tuhan itu meliputi segala sesuatu termasuk manusia itu sendiri sebagai ciptaannya. Sebagaimana Tuhan meliputi segala sesuatu maka kita sebenarnya mengetahui konsep Tuhan dan merasakan/menyentuhNya, itu melalui pengetahuan Hudhuri dimana kita dan Tuhan tidak dipisahkan oleh apapun juga dalam artian subyek dan obyek tidak terpisah karena kita sendiri dilingkupi olehNya, ibaratnya kita adalah setetas air yang berada dalam lautan yang tiada bertepi dan penuh dengan kenikmatan dan lautan itu adalah Dia.
Untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana kita yang materi merasakan/menyentuh Tuhan yang non materi ambillah contoh yang paling dekat dengan diri anda sendiri yaitu diri anda sendiri. Hal ini kita lakukan dengan merenung untuk memulai merasakan/menyentuh diri kita sendiri yang terdalam. Apakah Kita ini sendiri adalah diri kita sendiri bukan orang lain?? Dari mana kita tahu bahwa diri ini adalah diri kita sendiri bukan orang lain dan apa buktinya??
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa kita jawab dengan melakukan perenungan yang dalam tentang diri kita sendiri. Jadi pada dasarnya kita mengetahui diri kita bahwa bukan orang lain tapi kebenaran yang kita peroleh adalah obyektif tanpa keraguan dan itu pasti benar. Dalam artian kita mengetahui bahwa diri ini adalah diri kita sendiri dan bukan orang lain itu melalui pengetahuan Hudhuri. Kita menyaksikan langsung tanpa perantara bahwa diri ini adalah diri kita sendiri bukan orang lain.
Dan pada dasarnya ketika kita merenung dan merasakan diri kita sendiri dalam artian kita mengenal diri kita sendiri maka sesungguhnya kita tidak melibatkan materi/jasad kita dalam mengenal diri kita karena pada dasarnya materi itu sendiri adalah kendaraan bagi kita menuju Tuhan. Tetapi yang mengetahui dan yang di ketahui oleh diri kita tentang diri kita sendiri adalah ke-Aku-an (jiwa) kita yang non materi. Oleh karena itu, untuk merasakan yang non materi harus melalui non materi juga yang ada dalam diri kita.
Kita juga bisa mengambil contoh lain dan merasakan/menyentuh Tuhan yang non materi, ini kita bisa lihat dari contoh kehidupan kita sehari misalnya hubungan antara orang tua kita yaitu ibu kita dengan diri kita sendiri. Seorang ibu didalam membesarkan anaknya dengan kasih sayangnya mulai dari kita berada didalam kandungan sampai akhir hayat kita dan kita pun sebagai anak merasakan sebaliknya kasih sayang ibu tersebut di dalam diri kita. Kalau kita mengambil contoh ini dalam menjelaskan masalah diatas maka kita akan memulainya lagi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut. Bagaimana rasa kasih sayang itu terbangun antara ibu kita dengan diri kita? Apakah hubungan kasih sayang itu adalah sesuatu yang hakiki ada dan terjadi?
Dalam menjawab pertanyaan ini sama dengan jawaban pertanyaan sebelumnya bahwa hubungan kasih sayang yang terbangun antara ibu dengan diri kita karena kita memiliki ke identikan dengan ibu kita dimana jiwa kita senantiasa merasakan kehadiran kasih sayang dari seorang ibu dan hubungan ini adalah hubungan yang hakiki bukan hubungan aksidental olehnya itu kita bisa senantiasa merasakan kasih sayang seorang ibu terhadap kita dimana pun berada (tanpa di batasi oleh ruang dan waktu) dan hubungan itu sifatnya non materi.
Dalam kasus lain kita bisa menjawab masalah diatas dengan sepenggal kisah contoh sebagai berikut.
Ketika anda berlayar dengan sebuah kapal dan pada saat itu anda berada di tengah lautan dan kemudian terjadi ombak besar dengan angin yang sangat kencang disertai kilat dan guntur yang membuat suasana semakin mencekam dan pada saat itu kapal anda akan tenggelam dan itu berarti keselamatan anda terancam, lalu anda meminta tolong. Pertanyaannya, anda meminta tolong pada siapa? Tentu pada Tuhan. Apakah ketika anda meminta tolong kepada Tuhan, Apakah konsep Tuhan dalam benak anda itu adalah buatan pikiran anda semata sehingga anda meminta pertolongan pada hasil pikiran anda? Ataukah memang Konsep Tuhan dalam benak anda adalah sesuatu yang hakiki, bukan buatan anda sendiri? Pertanyaan itu akan mudah anda jawab dengan merenung dan berpikir tentang pertanyaan itu sendiri. Dan dalam kasus ini bahwa apa yang ada dalam benak kita tentang konsep Tuhan adalah benar-benar ada dan bukan buatan khayalan pikiran manusia, karena orang manapun baik ateis atau tidak, mustahil menyembah Tuhan hasil pikirannya sendiri dan pasti mengakui bahwa sosok yang dimintai pertolongannya dalam kasus itu bukanlah buatan khayalan semata, tapi adalah benar-benar ada.
Kesimpulanya bahwa untuk merasakan/menyentuh Tuhan dalam artian mengetahuinya adalah dengan mengenal diri kita sendiri. Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu,Siapa yang tidak mengenal dirinya maka dia tidak akan mengenal Tuhannya. Dengan mengenal diri (arafa nafsahu) kita bisa menyibak semua realitas diri kita dan Alam semesta ini dan bagaimana kita seharusnya di hadapan Rabb. Mengetahui hakikat dalam diri kita adalah kunci mengenal Dia sesungguhnya.
Kita tak perlu berlari jauh dan melangkahkan kaki untuk mencari bayangan kita
Kita tak perlu memegang bintang untuk melihat bintang nan jauh
Kita tak perlu berteriak untuk memanggil diri kita yang tak berjarak
Karena semua yang engkau inginkan ada didalam diri anda sendiri
Wallahu allam bisawab
La Ode Machdani Afala
(PK 7, D Pondok Istikomah, kamar 126, selasa,jam 11.36 wita.23 january 2010)
Sabtu, 04 Juni 2011
Avatar Indonesia
Dalam beberapa bulan belakangan ini masayarakat indonesia dihadapkan dengan beberapa masalah kasus hukum yang sampai pada hari ini tidak tuntas. Masalah yang paling heboh adalah kasus korupsi yang dilakukan oleh seorang pegawai kantor pajak Gayus tambunan yang memiliki pangkat IIIA. Masyarakat dikejutkan dengan penemuan sejumlah uang dalam jumlah yang besar di rekening gayus yang notabanenya adalah pegawai dengan pangkat rendah. Yang menjadi unik dari kasus ini adalah terbongkarnya gembok-gembok raksasa dan munculnya nama-nama tokoh besar yang cukup dikenal oleh kalangan masyarakat indonesa bahkan orang nomor satu indonesai pun sempat disebut-sebut terlibat didalammya.
Kasus ini pun kemudian menjadi bola (angin) liar yang siap ditendang dan diarahkan kemana saja. Dan yang paling menakutkan adalah bola angin tersebut akan mengenai siapa saja tanpa harus mengetahui status dan kedudukan dari seseorang. Aparat peneggak hukum sebagai pengendali bola angin tersebut harusnya memeriksa dan memintai keterangan atas tuduhan yang dikenakan kepada pihak-pihak tersebut. Namun dalam beberapa kasus terkadang bola angin tersebut tidak dikendalikan oleh peneggak hukum tapi dikendalaikan oleh orang lain yang memiliki kekuasaan lebih besar sehingga justru penegak hukum itu sendiri yang menjadi bola angin kedua untuk darahkan kesiapa saja, ke instansi tertentu, tokoh-tokoh dan orang-orang tertentu sehingga identitas dari sipengendali bola angin tersebut menjadi kabur. Dengan demikian sipengendali (avatar) tersebut dengan kemampuannya, mampu mengendalikan semua keadaan dan menghindar dari berbagai serangan dan kritikan. Semua elemen; media,institusi (kpk, polri, kontor imigrasi, pajak, perusahaan) mampu dikendalikan.
Dan yang paling menakjubkan dari avatar ini dengan tongkat layangnya (satgas penegak hukum) manjadikan dia bisa bergerak leluasa untuk terbang dan berpindah tempat, sehingga peneggak hukum yang harus menindak perbuatanya yang hina itu semakin tak berdaya, untuk menyentuhnya pun mereka tak mampu. Ini lah avatar Indonesai dengan empat kemampuan elemennya (kuasa presidenx, satgas, CIA, demokrat) ingin membangun rezim cikeas ala suharto demi tetap tegaknya kendali kekuasaan atasnya.
Semua orang tahu dan sudah menjadi rahasia umum bahwa avatar lah yang menjadi pelakunya. Tapi yang manjadi masalah adalah ketika semua pendekar dinegeri ini tak mampu mengalahkanya lantas siapa yang harus mengalahkan avatar Indonesia ini....???
Dan ‘kebenaran’ sekarang adalah apa yang diajarkan oleh para pengkhotbah yang berasal dari mereka pula, orang suci dan pembela orang-orang kecil yang bersaksi tentang dirinya sendiri: ‘akulah kebenaran’.
(W.F Nietszche dalam Thus Spake Zarathustra)
Kasus ini pun kemudian menjadi bola (angin) liar yang siap ditendang dan diarahkan kemana saja. Dan yang paling menakutkan adalah bola angin tersebut akan mengenai siapa saja tanpa harus mengetahui status dan kedudukan dari seseorang. Aparat peneggak hukum sebagai pengendali bola angin tersebut harusnya memeriksa dan memintai keterangan atas tuduhan yang dikenakan kepada pihak-pihak tersebut. Namun dalam beberapa kasus terkadang bola angin tersebut tidak dikendalikan oleh peneggak hukum tapi dikendalaikan oleh orang lain yang memiliki kekuasaan lebih besar sehingga justru penegak hukum itu sendiri yang menjadi bola angin kedua untuk darahkan kesiapa saja, ke instansi tertentu, tokoh-tokoh dan orang-orang tertentu sehingga identitas dari sipengendali bola angin tersebut menjadi kabur. Dengan demikian sipengendali (avatar) tersebut dengan kemampuannya, mampu mengendalikan semua keadaan dan menghindar dari berbagai serangan dan kritikan. Semua elemen; media,institusi (kpk, polri, kontor imigrasi, pajak, perusahaan) mampu dikendalikan.
Dan yang paling menakjubkan dari avatar ini dengan tongkat layangnya (satgas penegak hukum) manjadikan dia bisa bergerak leluasa untuk terbang dan berpindah tempat, sehingga peneggak hukum yang harus menindak perbuatanya yang hina itu semakin tak berdaya, untuk menyentuhnya pun mereka tak mampu. Ini lah avatar Indonesai dengan empat kemampuan elemennya (kuasa presidenx, satgas, CIA, demokrat) ingin membangun rezim cikeas ala suharto demi tetap tegaknya kendali kekuasaan atasnya.
Semua orang tahu dan sudah menjadi rahasia umum bahwa avatar lah yang menjadi pelakunya. Tapi yang manjadi masalah adalah ketika semua pendekar dinegeri ini tak mampu mengalahkanya lantas siapa yang harus mengalahkan avatar Indonesia ini....???
Dan ‘kebenaran’ sekarang adalah apa yang diajarkan oleh para pengkhotbah yang berasal dari mereka pula, orang suci dan pembela orang-orang kecil yang bersaksi tentang dirinya sendiri: ‘akulah kebenaran’.
(W.F Nietszche dalam Thus Spake Zarathustra)
demokrasi kaum miskin
Cerita ini diawali ketika teman-teman pusat studi demokrasi berkunjung ke komite perjuangan rakyat miskin yang notabennya ketua dan anggotanya adalah ibu-ibu rumah tangga. Kesan pertama yang hadir dalam benak adalah sosok perempuan perkasa yang berjuangan untuk menegakan keadilan dan hak mereka sebagai kaum miskin kota. Kenapa perempuan? karena menurut mereka kaum perempuanlah yang paling tahu kondisi daerah dan kaum miskin ketika para laki-laki mencari kerja. Para perempuan ini mengorganisir rakyat miskin di beberapa titik daerah miskin yang ada di kota makassar. Menurut mereka, rakyat miskin bukanlah barang jualan yang bisa ditawarkan kepada siapapun untuk bisa mendapat keuntungan. Selama ini mereka kurang diperhatikan oleh pemerintah daerah, karena pemerintah sibuk dengan urusan pribadi yang bukan urusan rakyat. Kata mereka” pemerintah memperhatikan mereka ketika moment pilkada telah dekat. Pemerintah (elite) di kala itu dengan rajinnya datang mengunjungi dan mempertanyakan aspirasi mereka. Inilah demokrasi bagi kaum miskin. Demokrasi dalam artian kedaulatan rakyat menjadi hilang, dan digantikan kadaulatan elite.
Kaum miskin pada momen politik hanya menjadi jualan untuk mendokrak popularitas dan mencapai suara terbanyak. Sedangkan kasus-kasus kemiskinan, ketidakadilan kesehatan, dan pelayanan publik lainnya hanya menjadi angin lalu setelah pilkada selesai.
Oleh karena itu, menurut mereka kaum miskin harus melakukan perjuangan, harus punya visi politik yang sejahtera dalam artian kaum miskin harus punya bargening position dalam memperjuangkan aspirasi mereka. Yang lebih mengesankan adalah model pengorganisasian ini tidak di danai oleh pihak luar tapi atas swadaya mereka sendiri. Ini dilakukan dengan mengandeng beberapa kegiatan misalnya pengurusan SIM dengan membayar lebih 2 ribu setiap kuam miskin, jadi seribu untuk kas kelompok miskin di daerah yang bersangkutan dan seribunya masuk ke kelompok orgonaiser yang sewaktu-waktu di gunakan untuk membantu ketika ada masalah di rumah sakit, sekolah dimana para kaum miskin susah untuk mengakses dan mendapatkan pelayanannya publik. Inilah wajah negeri ini, negeri para kapitalis, negeri para firaun.
suara rakyat, suara terompet
Kaum miskin pada momen politik hanya menjadi jualan untuk mendokrak popularitas dan mencapai suara terbanyak. Sedangkan kasus-kasus kemiskinan, ketidakadilan kesehatan, dan pelayanan publik lainnya hanya menjadi angin lalu setelah pilkada selesai.
Oleh karena itu, menurut mereka kaum miskin harus melakukan perjuangan, harus punya visi politik yang sejahtera dalam artian kaum miskin harus punya bargening position dalam memperjuangkan aspirasi mereka. Yang lebih mengesankan adalah model pengorganisasian ini tidak di danai oleh pihak luar tapi atas swadaya mereka sendiri. Ini dilakukan dengan mengandeng beberapa kegiatan misalnya pengurusan SIM dengan membayar lebih 2 ribu setiap kuam miskin, jadi seribu untuk kas kelompok miskin di daerah yang bersangkutan dan seribunya masuk ke kelompok orgonaiser yang sewaktu-waktu di gunakan untuk membantu ketika ada masalah di rumah sakit, sekolah dimana para kaum miskin susah untuk mengakses dan mendapatkan pelayanannya publik. Inilah wajah negeri ini, negeri para kapitalis, negeri para firaun.
suara rakyat, suara terompet
Antara Citra DaN Cantik
Segala sesuatunya akan berubah, karena perubahan merupakan hukum alam yang sudah ditakdirkan atas segala ciptaan. Di alam kehidupan ini manusia merupakan kreator utama atas alam, manusia adalah penziarah dunia yang memiliki kemampuan atas ciptaan lainnya.
Didalam era kehidupan modern, manusia dengan kemampuan yang dimilikinya telah mampu membangun peradaban atas manusia dan makhluk lainnya. Termasuk kemampuan dalam mendesain diri dan orang lain agar semua tampak cantik dan indah kala mata memadangnya. Industrialisasi lahir sebagai hasil atas pencarian pemenuhan dan kemudahan manusia dalam menjalani hidupnya. Berbagai macam produk lahir dari industri sebagai jawaban atas kondisi sosial yang ada. Masalah tentang bagaimana diri harus berhadapan dengan orang lain, masalah diri ketika kondisi sosial menuntutnya sebagai kebutuhan harus dipenuhi. Berbagai tekanan kemudian lahir bertubi-tubi dan mengenai tepat didada dimana psikologi individu terganggu. Ini menjadi masalah serius yang harus di hadapi oleh setiap manusia, karena kondisi seperti itu melahirkan kegundahan dan kegelisahan hidup yang menimpa dirinya.
Masalah psikologi juga mengakibatkan inkonsistensi di dalam diri sehingga dengan kondisi seperti ini akan mudah dimanfaatkan oleh orang lain dan mudah percaya terhadap sesuatu. Alienasisasi terjadi dalam diri, orang lain, dan bahkan Tuhan. Hegemonisasi yang dilakukan oleh pihak tertentu akan mudah terlaksana. Inilah awal dari westoknisasi dan eastoknisasi manusia yang mengancam peradaban.
Lingkungan sosial yang liberal dengan kultur profit yang deras menjadikan segala usaha dihalalkan termasuk dalam pencitraan akan sesuatu. Fenomena yang mentradisi sekarang ini dengan lingkungan dan kultur profit adalah pencitraan perusahaan-perusahaan akan produk jualannya. Perusahaan akan mencitrakan berbagai produk untuk menarik khalayak ramai. Inilah kerja perusahaan.
Yang menjadi masalah besar dari itu sebenarnya adalah ketika manusia mencitrakan dirinya sebagai produk untuk menarik khalayak ramai. Cantik, angun, berbodi elment, dan putih menjadi standar bahwa khalayak ramai meminatinya. Ini menjadi trend dan mode terbaru ala manusia modern. Olehnya itu, kita kadang melihat perempuan dan lelaki yang melakukan perawatan dengan harga yang mahal dengan dilengkapi pakaian yang tipis dan serba setengah jadi ala gaya masa kini tapi pada sisi yang lain juga mereka mengorbankan perawatan itu ketika berada di tempat umum dan ramai. Semisal, ketika kondisi matahari yang panas dengan debu yang bertebaran dimana-mana, para perempauan maupun lelaki ini dengan rela jalan dengan tanpa menutup hidung, tanpa menutup badannya dengan pakaian yang tebal, tanpa menggunakan helm agar rambutnya bisa terurai panjang. Mereka melakukan ini demi pendapatkan pemujaan dan kebanggaan diri dari masyarakat dan kala itu perawatan menjadi diabaikan.
Hal ini menandakan bahwa pada dasarnya perawatan yang dilakukan oleh bukanlah dengan tujuan kesehatan bagi mereka tapi perawatan itu dilakukan untuk mendapatkan image dan keterpesonaan orang lain atas dirinya. Ini menjadi efek dari kondisi psikologi yang tidak stabil sebagai imbas dari tekanan sosial dengan kultur citra dan profit yang menguasai dunia kehidupan manusia.
Oleh karena itu, kita hanya harus mengetahui dan memilah akan kebaikan hidup yang ditawarkan lingkungan terhadap kita.
(BERSAMABUNG.....)
===Machdani afala===
Langganan:
Postingan (Atom)




