Selasa, 21 Juni 2011

Prinsip Demokrasi; Bangunan Welfare State


Oleh: La Ode Machdani Afala

          Dalam kehidupan bersama, ada beberapa prinsip yang  menjadi pertimbangan di dalam merumuskan dan menyusun struktur kehidupan bersama yang lebih baik. Negara sebagai wujud dari kehendak kolektif yang lahir dari pergulatan realitas yang dialami oleh setiap insan manusia pada dasarnya harus memiliki bangunan beberapa prinsip yang menjadi arah gerak perwujudan kehidupan bersama. Prinsip persamaan (egaliter), kebebasan, keadilan, dan keamanan merupakan beberapa prinsip penting yang harus menjadi perimbangan untuk di dahulukan didalam penerapannya.

            Beberapa negara di dunia, dalam praktek demokrasinya lebih cenderung mengutamakan prinsip keamanan. Prinsip ini menjadi lebih utama pada negara-negara yang mengalami stabilitas politik yang tidak kondusif, tekanan dan kekacauan sosial yang akut. Sehingga praktek demokrasi dengan mengedepankan prinsip keamanan lebih penting dibandingkan dengan prinsip lainnya. Negara yang berada dalam kondisi chaos akan mengabaikan hak-hak sipil dan politik warga negaranya. Oleh karenanya, negara dalam praktiknya akan lebih melakukan tindakan represif, dan agak cenderung otoriter sehingga peran serta masyarakat menjadi minim.

         Namun dibeberapa negara yang lain, sebuah negara akan cenderung akan mengedepankan prinsip kebebasan, dalam artian negara memberikan peluang dan ruang yang luas bagi masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kehidupan bernegara. Kebebasan dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan terhadap hak asasi manusia. Sehingga negara dalam hal ini, menjadi demokratis karena antara negara dengan rakyat menjalin hubungan yang partisipatif. Akan tetapi, dalam kondisi negara yang demikian, tanpa dilandasi dengan prinsip keadilan justru akan mengakibatkan keretakan dan kesenjangan sosial yang tragis. Dalam negara yang yang mengedepankan prinsip kebebasan ini lebih cenderung mengarah kepada kebebasan yang disalah artikan dimana kebebasan itu di arahkan kepada pencarian keuntungan sebesar-besarnya bagi individu. Kondisi ini akan mengarah pada praktek demokrasi yang liberal yang tidak menghargai prinsip kesetaraan (egaliter).

            Dalam negara yang dicita-citakan oleh Plato dan Aristoteles, prinsip keadilan menjadi hal yang di utamakan. Praktek demokrasi yang berpegang pada prinsip ini akan akan mengarah pada praktek demokrasi yang adil baik dari sisi ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Prinsip keadilan pada dasarnya akan berefek besar pada terwujudnya prinsip-prinsip lainnya, persamaan (egaliter), keamanan, dan serta jaminan akan hak asasi manusia. Didalam prinsip ini, tidak berarti mengabaikan kebabasan manusia, justru prinsi kebebasan itu akan bisa terjamin dengan baik.
            Dalam konteks sosial yang lebih kompleks, atau negara yang sangat multikultural, maka praktek demokrasinya akan lebih rumit dibandingkan dengan konteks sosial yang cenderung homogen. Dalam negara yang sangar plural tersebut, prinsip keadilan tidak menjadi cukup tanpa di topang dengan prinsip pluralisme yang mengakui perbedaan dengan yang lainnya dan prinsip toleransi yang menghargai dan menghormati perbedaan. Bangunan prinsip ini, akan menjadi kokoh dalam masyarakat yang kompleks (heterogen) ketika bangunan kesadaran masyarakatnya menjadi baik dalam artian prinsip pluralisme dan prinsip toleransi benar-benar dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

            Oleh karena itu, jaminan terhadap kehidupan bersama harus selalu mengarah pada kebaikan bersama yang hanya bisa terbangun melalui prinsip keadilan, pluralisme, toleransi, kesetaraan/persamaan (egaliter), kebebasan serta keamanan. Praktek demokrasi akan berjalan dengan baik dalam bingkisan prinsip-prinsip tersebut.

Wallauhu alam bi sawab,

Minggu, 19 Juni 2011

Matinya Mahasiswa

oleh: La ode Machdani Afala

            Dalam sejarah perubahan, mahasiswa selalu mengambil andil yang cukup besar di dalam melakukan perubahan. Dimana perubahan yang dilakukan oleh mahasiwa itu dalam rangka meneggakkan keadilan dan membumikan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini dirampas oleh kaum yang menganggap dirinya memiliki legitimasi kekuasaan dalam menentukan nasib orang banyak. Mereka itu adalah para birokrat-birokrat pemerintah dan aparatur negara. Perubahan dilakukan oleh mahasiswa karena ia merasa bahwa identitasnya sebagai mahasiswa sehingga menggerakkannya untuk melakukan perubahan dan meneggakkan keadilan bagi setiap orang yang tertindas. Peran-peran ini hadir karena mahasiswa menyadari diri sebagai agent perubahan , agent pelopor dan melakukan pembelaan kepada rakya kecil dalam rangka meneggakkan keadilan sebagai akibat kebijakan pemerintah yang tidak memperhatikan rakyat kecil.

            Lantas dari manakah awal munculnya peran-peran tersebut? Dan kenapa harus mahasiswa yang mengemban peran itu? Adakah kewajiban itu harus di pikul oleh mahasiswa? Di dalam pandangan mahasiswa lembaga kampus adalah lembaga yang independent dimana intervensi politik itu di haramkan di dalamnya namun pada kenyataannya itu tetap terjadi. Lembaga kampus di percayai sebagai lembaga yang bisa melahirkan orang-orang yang memiliki kesadaran kritis dan spirit untuk melakukan perubahan, yang bertanggung jawab atas kehidupan orang banyak karena katanya mahasiswa adalah kumpulan para intelaktual dan yang memiliki idealisme yang tinggi dalam memperjuangkan perubahan. Oleh karena itu maka mahasiswa diserahi beban dan tanggung jawab yang demikian besar. Apakah memang demikian tanggung jawab yang harus di emban oleh kaum intelektual ini?

            Adakah orang lain selain mahasiwa yang bertanggung jawab atas ketidakadilan dan penindasan  terhadap orang lain? Semua sepakat bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap diri dan orang lain di sekitarnya. Sehingga tanggung jawab untuk melakukan perubahan dan pelopor pembaharuan itu tidak hanya wajib dilakukan oleh mahasiswa tetapi setiap orang melekat tanggung jawab pada dirinya sebagai makhluk sosial. Tetapi kenapa mahasiswa di tuntut lebih dibandingkan masyarakat biasa? Hal ini dikarenakan mahasiswa di golongkan sebagai kaum intelektual muda yang memiliki daya analisis dan solutif terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat dan karena independensi serta idealisme yang melekat pada mahasiswa itu sendiri.

            Namun, realitas mahasiswa sekarang menunjukkan sikap yang kini seakan lupa terhadap identitasnya sebagai mahasiswa dimana watak mahasiswa sekarang lebih mengarah kepada hal yang tidak prinsipil lagi, tetapi pada pemenuhan individualitanya. Misalnya realita mahasiswa sekarang ini cenderung apatis, heroik, hedon, akademik bangat, kuper dan sebagainya. Watak eperti inilah yang sekarang ini menggambarkan wajah mahasiswa sekarang dan itu  terjadi tidak lepas dari determinasi lingkungan dan tuntutan orang-orang di sekitar kita serta kebijakan/aturan yang dibuat oleh otoritas-otoritas kampus, dimana budaya-budaya kajian yang dulunya tumbuh subur di koridor kini sedikit demi sedikit mulai hilang di telan oleh keegoisan, kemalasan  mahasiswa itu sendiri serta aturan-aturan yang cenderung mengekang kebebasan manusia sebagai mahasiswa.

            Disisi lain mahasiswa itu sendiri terlalu menganggap diri sebagai sosok pahlawan untuk melakukan perubahan, mengarahkan  masyarakat untuk melakukan perjuangan secara masif untuk menentang ketidakadilan sehingga perkerjaan sebagai tempat mencari nafkah harus di tinggalkan, para tukang becak yang harus meninggalkan becaknya hanya untuk berdemo, masyarakat lain yang terganggu akibat demo yang kita buat sendiri dan akhirnya kita dianggap hero terhadap apa kita lakukan. Karena perasaan demikian sehingga kita selalu mencoba menunggangi masyarakat kecil untuk ikut dengan kita. Dan selanjutnya mahasiswa merasa sebagai super hero dalam menangani segala bentuk permasalahan kehidupan masyarakat.

            Disisi lain,di tengah perkembangan pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih dengan pelayanan akses yang sangat tinggi di semua bidang kehidupan sehingga dengan mudah manusia dapat memperoleh apa yang mereka cari termasuk dalam menyiapkan ruang kerja bagi para lulusan mahasiswa dengan iming-iming gaji yang mensejahterakan hidup. Di tambah lagi tuntutan akan orang tua, lingkungan dan orang sekitar yang menjadikan kita harus bergegas cepat untuk selesai dari kampus dimana kampus hanya di jadikan sebagai pabrik izasah sebagai syarat untuk mendapatkan pekerjaan. Inilah yang menjadi dilema dikalangan mahasiwa sekarang ini. Dunia kampus telah menjadi pabrik untuk menghasilkan orang yang siap kerja di industri-industri para kapitalis. Inilah tuntutan hidup sekarang ini. Disisi lain kita sebagai mahasiwa harus memperjuangakan dan menyuarakan keadilan dan melakukan pengkaderan di lembaga kampus, dengan doktrin untuk loyal tehadap lembaga sampai melakukan pengekangan terhadap kebebasan junior dan bagaimana kita mengawal kebijakan pemerintahah untuk tetap berpihak kepada masyarakat luas. Identitas mahasiswa kini menjadi bias, tanpah arah, mahasiswa kini kehilangan jati dirinya sebagai mahasiswa. Era matinya mahasiswa kini telah lahir dan hanya meninggalkan jejak-jejak sejarah yang dulu menjadi kenangan bagi pergerakan dan spirit mahasiswa.    

            Budaya posmodernisme kini telah menjadi tren baru dimana semua ruang telah di isi oleh  kepentingan kapitalisme global, semua wacana telah mangaburkan batas-batas baik dan buruk, benar dan salah sehingga dengan gampang pola pikir mahasiswa sekarang menjadi tak memiliki pijakan hidup maka lahirlah mahasiswa-mahasiwa pragmatik, hedon yang terjebak dalam dunia temporal/tidak jelas dan ini menambah suram kekaburan identitas kemahasiswaan kita. Mahasiswa kini tidak lagi memiliki nilai yang harus di perjuangkan  karena logika berpikirnya telah berubah dan di kendalikan oleh hasrat individualitasnya. Dan cara berpikir seperti inilah juga yang mempengaruhi mahasiswa di dalam melakukan dan menjalan kan perannya, entah itu didalam pergerakannya, pemberian solusi terhadap masalah bangsa dan akan mengaburkan bagaimana metodologi dalam meneggakkan keadilan dan mengadvokasi masyarakat kecil.

            Yang menjadi masalah sekarang, bagaimana seharusnya menghidupkan kembali Mahasiswa dengan mengembalikan ulang keidentitasanya?

            Dari sekian banyak mahasiswa yang ada, pasti ada satu atau dua orang yang tetap solid di dalam menjaga idealismenya dan mereka itulah yang harus kita jadikan rujukan dalam mengatasi problem mahasiswa sekarang dan disisi lain yang perlu kita lakukan adalah merekonstrusi paradigma kita untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang kita perjuangkan sebagai mahasiswa. Dan untuk merekonstruksi peradigma itu yang harus kita lakukan adalah mengembalikan kembali substansi dari keberadaan lembaga itu sendiri yaitu pengkaderan dalam artian pengkaderan itu harus membawa nilai sehingga pengkaderan itu sendiri bukanlah sebatas ritus dan ritual semata tetapi memang ada nilai yang ditanamkan, sekalipun nilai itu ditanamkan secara doktrinal. Pengkaderan yang sukses akan melahirkan kader yang kritis, kader yang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap permasalahan kehidupan. Dan yang lebih penting juga bahwa perbedaan zaman maka meniscayakan perbedaan metodologi dalam melakukan pengkaderan maupun dalam melakukan pergerakan sehingga tidak larut dalam eforia masa lalu. Tetapi bukan berarti kita tidak belajar masa lalu tetapi bagaimana spirit masa lalu  terkontekskan  di dalam masa kini. Kalau kita belajar dari falsafah hidup Mahatma Ghandi yang mengatakan bahwa ‘’perhatikanlah makananmu karena akan mempengaruhi pikiranmu, perhatikanlah pikiranmu karena akan mempengaruhi tindakanmu’’. Dalam artian kita harus belajar dari membenahi diri kita sendiri dan ketika kita sudah bisa membenahi diri maka kita bisa membenahi orang lain. Dan akhirnya melalui pengkaderan itu, kesadaran yang dulunya hanya berada di benak kini bisa menggerakan jiwa untuk terus melakukan perjuangan dan perubahan.

            Dan yang tidak kalah penting dalam membangun dan mengawal pengkaderan adalah dengan membentuk team pengkaderan/garda pengkaderan yang tetap solit dan konsisten didalam perjuangan nilai-nilai perjuangan itu sendiri. Pemikiran yang holistik dalam melihat masalah kemahasiswaan saat ini adalah salah satu cara bagaimana kita merekonstruksi kembali budaya dan mengembalikan identitas mahasiswa. Sekalipun didalam memperjuangkan masyarakat kecil, mahasiswa merasa heroik/superior dan memang harus seperti itu. Bayangkan kalau kita tidak memiliki keberanian dan merasa tahu dalam melakukan pergerakan atau perubahan? Maka bisa di pastikan tidak ada mahasiswa yang lagi mengadvokasi masyarakat dan berjuang bersama rakyat, yang salah adalah ketika perasaan heroik/Superior itu lepas dari nilai-nilai yang kita perjuangkan bagi rakyat dan perubahan. Mahasiswa mengambil peran ini adalah suatu pilihan bukanlah paksaan yang harus diwajibkan bagi setiap orang. Intinya lembaga kemahasiswaan adalah motor pertama di dalam menggerakan dan menyelenggarakan pengkaderan, sehingga lembaga itu sendiri sebenarnya adalah ruh dari pengkaderan.

            Perubahan adalah sesuatu yang melekat dalam diri kita
            Tak berubah berarti itu adalah kematian bagi kita
            Perubahan adalah gerak itu sendiri
            Karena gerak adalah makna dari hidup

Kesadaran Kolektif

Oleh: La Ode Machdani afala

Kata sebuah pepatah, banyak orang itu lebih baik dari sedikit apatalagi satu orang. Banyak orang mengindikasikan banyaknya tenaga, karena terhimpunya beberapa kekuatan dari setiap orang. Terhimpunya beberapa pemikiran, solusi, metode, alat dan energi. Dengan begitu semua kegiatan yang dikerjakan akan menjadi ringan, efektif dan efisien. Itulah keuntungan besar dari kebersamaan.

Dalam kehidupan sosial, berkumpullah beberapa orang dengan berbagai latar belakang dan kultur yang berbeda sebagai akibat asimilasi dan akulturasi budaya. oleh karena itu, kehidupan sosial sebagai wujud kehidupan bersama harus terbangung dari kehendak kolektif dalam bentuk kesepakatan sosial yang kemudian dijewantahakan kedalam norma-norma sosial yang mengatur kehidupan bersama. Regulasi moral ini sebagai aturan kolektif untuk menjaga tatanan kehidupan kelompok masyarakat tersebut. Regulasi yang terbangun dari play stage (diri ), game stage (keluarga ) sampai pada sosial stage, sehingga integritas sosial yang terbangun dari setiap individu menjadi lebih kuat. Ini akan berlangsung dengan baik dengan adanya proses sosialisasi,  internalisasi, dan identifikasi yang dilakukan setiap individu untuk memahami dan mengikatkan dirinya pada regulasi moral yang ada. Ketaatan pada regulasi moral ini akan akan melahirkan integritas dan solidaritas sosial yang mampu menyatukan dan menggerakan masyarakat.

Bangunan integritas dan solidaritas ini akan terbangun jika ada kesadaran kolektif (Emile Durkheim) untuk menjatuhkan diri dalam realitas kemasyarakatan dan pemahaman terhadap kebaikan bersama. Kesadaran kolektif akan terjaga dengan baik oleh norma-norma, sistem hukum yang berlaku yang mengarahkan kepada integritas sosial.

Namun, dalam kehidupan manusia tidak dapat dielakkan bahwa perubahan sosial pasti akan terjadi sebagai akibat dari perkembangan teknologi dan sains oleh manusia. Perubahan yang cepat akan menggantikan peran-peran lama yang ada di masyarakat sebagai akibat pembagian kerja yang menghasilkan suatu kebingungan norma yang pada akhirnya meruntuhkan norma-norma itu sendiri. Inilah keadaan yang disebut oleh Durkheim dengan Anomie. Kondisi dimana munculnya bentuk-bentuk prilaku menyimpang semisal bunuh diri (suicide).

Dalam masyarakat tradisional, kesadaran kolektif masih sangat kuat, tapi dalam kehidupan modern kesadaran kolektif semakin rapuh. Kerapuhan  terjadi sebagai akibat ketidakmampuan norma sosial didalam mengakomodasi perubahan sosial. Norma yang tidak terbuka terhadap dinamika sosial  justru mengarahkan pada terancamnya integritas sosial. Kondisi ini terlihat dari kerapuhan lembaga tradisional untuk memenuhi kebutuhanya, kesenjangan ekonomi, dan kekerasan massa yang akut. Kondisi sosial yang ‘shock’  seperti ini akan mengakibatkan kebingungan sosial.

Oleh karena itu, untuk membangun integritas sosial yang kokoh, kesadaran kolektif harus terbangun terlebih dahulu. Untuk itu, norma-norma sosial harus terbuka pada segala bentuk dinamika kehidupan. Peran-peran sosial baru yang lahir dan terbentuk sebagai bentuk perkembangan teknologi dan sains kemudian menempati struktur baru dalam struktur sosial yang lebih luas. Perkembangan ini juga kemudian melahirkan heterogenitas peran didalam masyarakat. Integritas sosial pada akhirnya harus dibangun diatas peran-peran masyarakat yang saling komplementer dalam dinamika sosial kemasyarakatan. Kondisi ini yang disebut Durkheim dengan ‘solidaritas Organik’ yang akan membangun kembali kesadaran kolektif.

         “sikap kebersamaan (egaliter) terbangun dari keinginan kita akan kebaikan bersama” (Dhani)



Topeng Modernisme


Oleh: La Ode Machdani Afala

Salah satu fenomena menarik yang mewarnai perkembangan masyarakat kontemporer, khususnya kota-kota besar adalah marak tumbuhnya wacana, trend, dan gaya hidup baru.  Perkembangan tersebut tidak lepas dari perkembangan zaman yang semakin canggih dan modern dimana manusia dimanjakan dengan berbagai kemudahan-kemudahan dalam menjalani kehidupannya. Teknologi yang canggih telah menjadikan garis lintang dan garis bujur bumi semakin pendek sehingga jarak tidak menjadi masalah lagi untuk mengetahui belahan bumi lainnya.
Dalam babakan baru kapitalisme lanjut, lahir wacana posmodernisme, sebuah wacana yang didalamnya diciptakan ruang-ruang bagi pembebasan hasrat manusia dari berbagai katubnya. Pembebasan energi libido seksual dari kungkungan Freud, pembebasan energi kehendak  dari kungkungan Marx, pembebasan tanda dari kungkungan semiotika Saussure, pembebasan energi kedangkalan dari kungkungan modernisme dan pembebasan tubuh dari kungkungan moralitas yang mengekang. Pembebasan hasrat manusia dialirkan melalui saluran bebas hasrat; lewat kanal ekonomi yang menciptakan ekonomi libido (libidonomic) yang mengarahkan kita kepada high consumtion (logika belanja), lewat kanal politik yang menciptakan politik hasrat yang haus akan kekuasaan (politik citra), lewat kanal komunikasi yang menciptakan ekstasi komunikasi, lewat kanal media yang menciptakan ketelanjangan media.
Perkembagan ini ditandai dengan perubahan paradigma dalam memahami kondisi realitas manusia. Sebuah paradigma dimana realitas sosial adalah produk dari hasrat (keinginan) dan mengarahkan manusia kepada the culture narcissime yang selalu mencari popularitas, publisitas, dan ketenaran untuk membangun image (citra). Dalam realitas sosial tersebut terbentuklah masyarakat skizoferenia dalam istilah Felix Guattari, sebuah masyarakat yang mengidap penyakit yang melakukan gerakan pembebasan diri dari berbagai aturan-aturan (Anti Oedipus).
Paradigma yang terbentuk kemudian menjadikan manusia teralienasi dari dirinya sendiri, manusia tidak lagi menjadi tuan atas ciptaannya tapi menjadi budak, manusia diarahkan pada kondisi yang temporal/ambigu yang senantiasa berubah dan melupakan prinsip hidup dan identitas diri. Inilah yang di sebut oleh Mark Slouka dengan fragmented knowledge and consciousness.

Jumat, 17 Juni 2011

Derita kerinduan


Oleh: La Ode Machdani Afala

duhai Engkau yang Maha Cantik,,,
betapa aku sangat merindukanMu
terasa ragaku remuk retak karenaMu

duhai yang aku Rindukan....
hatiku ini tak sanggup menampung kebahagiaan ini
sekiranya aku bisa berbalas budi Padamu
maka tak ada ikhtiarpun yang akan ku sanggupi

duhai yang ku Cintai....
ku ingin ungkapkan semua rasa ini padaMu
tapi ku tahu, rinduku ini tak akan bisa terobati
sekalipun semua keindahan alam semesta dihadapkan padaku

duhai yang memberiku Rindu...
izinkan aku menyapaMu dalam derita kebahagiaanku ini
izinkan aku mencicipi setetes anggur cintaMu
karena tulang dan darah ku ini merintih ingin memelukMu

duhai yang Terindah....
gejolak jiwaku ini berdenyut kegirangan menyebut namaMu
sekalipun ku tahu aku hanya bisa mengatakan aku cinta padaMu

duhai Engkau yang Maha Indah,,,
kini biarkan aku menjadi pengemis rinduMu
biarkan aku merintih dengan derita dan derai tangisanku ini 
karena rindu ini telah menjadi kobaran api yang membakar jiwaku

duhai kekasih hatiku,,,
ku ingin cumbui Engkau dalam puncak kenikmatan iman
karena hanya Engkaulah penawar deritaku, penyembuh lukaku, penyejuk dukaku,dan pengobat pedihku